dessy.acidblog.net

Cinta Yang Pergi

20. May 2008 Kategorie Poames | 0 Kommentar »

Cinta…ketika hadir, sejuta kebahagian tercipta bagi yang mencinta. Namun ketika cinta itu pergi, hati merasa kecewa dengan kepedihan yang begitu mendalam, bahkan air mata tak sanggup mengungkapkan kepedihan itu

26. June 2007 Kategorie Ha ha ha | 0 Kommentar »

Preman : “Gimme your money ! You bloody Asian !”
Pengusaha indonesia : ” Eee..delicious aja ! you think easy find money yes? Done tired half dead, you delicious - delicious ask money ! ”
(Eee..enak aja..lu pikir gampang cari duit ya..? udah capek setengah mati, elu enak-enak minta duit)

Cinta

16. May 2007 Kategorie Poames | 0 Kommentar »

Cinta tidak bisa di lihat dengan mata
Cinta tidak bisa di dengar dengan telinga
Cinta tidak bisa di raba dengan tangan
Tp cinta bisa di rasa dengan hati
I miss u so hanihh…

Berani Mencoba

28. March 2007 Kategorie General | 0 Kommentar »

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang
dibuatnya: “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak
31,104,000 kali selama setahun?”

“Ha?,” kata jam terperanjat, “Mana sanggup saya?”

“Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?”

“Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping
seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.

“Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?”

“Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu” tetap saja
jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam, “Kalau
begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?”

“Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik.
Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar
biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa
henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

Renungan :

Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu
terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita
ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap tidak mungkin
(impossible)untuk dilakukan sekalipun. Jangan berkata “TIDAK” sebelum Anda
pernah mencobanya.

Kata Bijak :

Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan
denyut jantung, gairah, dan air mata. Tetapi ukuran sejati di bawah
mentari adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang
lain.

Doa dan Bungkusan yang Ruwet

21. February 2007 Kategorie General, Relegion | 0 Kommentar »

Eramuslim,29 Jun 06 07:59 WIB
Malam Jum’at di Masj id Rungkut Jaya. Suatu kali.
Beberapa ayat telah dikupas dari berbagai tafsir: Jalalain, Al-Mishbah, Al-Azhar, Adz-Dzikra, Fii Dzilalil Qur’an, dan beberapa tafsir berbahasa Jawa dan Inggris.

“Saya pernah berdoa yang tak biasa, Pak,” kata Bu Kus membuka sesi pertanyaan.
“Apa itu, Bu Kus?” tanya Pak Suherman Rosy id i, Sang Ustadz.
“Suatu kali saya berdoa: Ya Allah, jadikan saya isteri yang selalu terlihat cantik di mata suami.”
“Doa yang bagus, dong,” sergah Pak Ustadz, “lalu apa yang terjadi?”
“Ya, memang bagus, Pak Herman . Tetapi, esok harinya wajah saya mulai ditumbuhi jerawat yang saya t id ak tahu darimana datangnya. Banyak. Beberapa hari kemudian malah memenuhi seluruh wajah. Saya jadi kebingungan. Akhirnya mau t id ak mau saya harus menjalani perawatan kecantikan wajah ke sebuah salon kecantikan, suatu hal yang t id ak pernah saya lakukan. Saya harus datang ke tempat itu untuk membersihkan jerawat di muka saya. Berkali-kali. Berhari-hari. Hasilnya tentu saja mengejutkan saya. Wajah saya menjadi lebih bersih dari semula. Lebih cantik.”

“Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?”
“Ya, sih Pak. Tetapi itu belum seberapa, Pak.”
“Maksudnya gimana?”
“Saya juga pernah berdoa yang tak biasa, Pak. Doa yang lain.”
“Apa itu?”
“Saya berdoa agar Allah menjadikan saya isteri yang setia pada suami.”
“Doa yang bagus juga. Lalu apa yang terjadi, Bu?”
“Esok harinya, suami saya jatuh sakit. Tak bisa bangun. Ia harus dirawat di rumah sakit. Berhari-hari. Saya mau tak mau harus menungguinya selama terbaring itu. Saya bahkan sampai merasa itu semua seperti ujian bagi saya. Ujian terhadap kesetiaan saya, apakah saya tetap setia pada suami apa t id ak. Saya seketika teringat akan doa yang pernah saya panjatkan sebelumnya.”

“Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?”
“Ya, sih, Pak.”
“Lalu sekarang, pertanyaannya Ibu apa?”
“Bukan pertanyaan, Pak.”
“Lalu apa?”
“Sekarang ini, saya justru merasa takut untuk berdoa. Gimana ini?”
***
“Apakah Tuhan memberikan apa yang engkau harap dengan mengantarkannya dalam bungkusan yang indah?”
Neno Warisman pernah bertanya demikian pada sebuah acara di televisi, mengutip pernyataan seorang pakar yang aku lupa namanya.

“T idak!” lanjut Neno. “Tuhan t id ak mengantarkan apa yang engkau minta dalam sebuah bungkusan yang menarik lagi indah. Bahkan Ia mengantarkannya dalam bungkusan yang jelek, ruwet, carut-marut, dan kelihatannya sukar untuk dibuka.

Pertanyaannya adalah: mengapa?”
“Itu t id ak lain karena Ia ingin melihat bagaimana engkau membuka bungkusan itu dengan penuh kesabaran, telaten, bersusah-payah lapis demi lapis, sedikit demi sedikit, terus, terus, dan terus. Tak pernah berhenti apalagi berpaling. Hingga pada akhirnya bungkus terakhir terbuka dan engkau mendapatkan sesuatu yang engkau harapkan ada di dalamnya.”

Bukankah Allah pasti akan mengabulkan apa yang hamba-Nya pinta? Kuncinya kalau begitu adalah: jangan pernah berhenti memuja. Jangan pernah berhenti berharap.

Allah t idak tidur.
Allah mahamengetahui.
Allah mahamendengar.
Dia maharahman dan rahim.
Sungguh tak ada yang sepatutnya kita lakukan kecuali selalu berprasangka baik pada setiap pemberian-Nya. Entah nikmat, entah musibah. Karena musibah pun mungkin hanyalah bungkus belaka; yang selayaknya kita yakini bahwa itu semua hanya karena Ia ingin melihat kita membukanya dengan sepenuh cinta.